syndrom neufrotik

 

 

LANSOPRAZOLE 30 MG

 

Nama Produk:

                                                                                  Albendazole 400 mg Ambroxol 30 mg Aminophylin 200 mg Aminophyllin 200 mg Amoxicillin 125 mg/5 ml Sirker Amoxicillin 500 mg Amoxycillin 250 mg Ampicillin 1 gr Inj Ampicillin 125 mg/5ml Ampicillin 500 mg Antalgin 500 mg Antalgin 500 mg Asam Mefenamat Carbamazepine 200 mg Cefadroxil 500 mg Cefadroxil syrup Cefotaxime 1 gr Inj Ceftriaxone 1 gr Inj Cephalexin 500 mg kapsul Cetirizine 10 mg Chloramphenicol 250 mg Cimetidine 200 mg Ciprofloxacin 500 mg Cotrimoxazole 480 mg Cotrimoxazole Susp 240 mg/ 5ml Dexamethason 0.5 mg Kotak 100 Dexamethasone 0.5 mg Botol 1000 Diltiazem 30 mg Domperidon 10 mg Doxycycline 100 mg Erythromycin 200 mg/5 ml (kering) Erythromycin 250 mg Erythromycin 500 mg Famotidine 20 mg Famotidine 40 mg Furosemide 10 mg/ml Inj Furosemide 40 mg Gemfibrozil 300 mg Gemfibrozil 600 mg Glibenklamide 5 mg Griseofulvin 125 mg Hydrocortison 2.5% – 5 g Ibuprofen 200 mg Ibuprofen 400 mg Inamox® 500 mg Lansoprazole 30 mg Loratadine 10 mg Mebendazole 100 mg Mebendazole 100 mg/5 ml Syr Methyl prednisolon 16 mg Methyl prednisolon 4 mg Metronidazole 250 mg Na Diklofenak 25 mg Tab Na Diklofenak 50  mg Tab Nifedipine 10 mg Tab Ofloxacin 200 mg Ofloxacin 400 mg Omeprazole 20 mg Ondansetron 4 mg/2 ml Inj Ondansetron 8 mg/4 ml Inj Paracetamol 100 mg Paracetamol 500 mg Paracetamol 500 mg Parasetamol 120 mg/5 ml Piracetam 1200 mg Piroxicam 10 mg Piroxicam 20 mg Pravastatin 10 mg Pravastatin 20 mg Pyrazinamide 500 mg Ranitidine 150 mg Ranitidine Inj Rifampicin 300 mg Rifampicin 450 mg Rifampicin 600 mg Spiramycin 250 mg Spiramycin 500 mg Tramadol 50 mg Tab Tramadol Injeksi 50 mg/ml Trihexyphenidyl 2 mg Zinc INF  (Klik untuk navigasi ke produk lain)

Komposisi

Tiap kapsul mengandung lansoprazole 30 mg.

Cara Kerja

Lansoprazole adalah penghambat sekresi asam lambung yang efektif. Lansoprazole secara spesifik menghambat (H+/K+) ATPase (pompa proton) dari sel parietal di mukosa lambung.

Indikasi

Lansoprazole diindikasikan untuk :
Ulkus duodenum.
Benigna ulkus gaster.
Refluks esofagitis.

Dosis

Ulkus duodenum : 1 kali sehari 30 mg selama 4 minggu.

Benigna ulkus gaster : 1 kali sehari 30 mg selama 8 minggu.

Refluks esofagitis : 1 kali sehari 30 mg selama 4 minggu.

Cara Pemberian :

Lansoprazole diberikan 1 kali sehari. Untuk mencapai efek penghambatan asam yang optimal dan kesembuhan yang cepat dan hilangnya gejala-gejala, lansoprazole sebaiknya diberikan pagi hari sebelum makan.

Pengobatan jangka panjang dengan lansoprazole tidak dianjurkan pada saat ini karena pengalaman klinis terbatas.

Orang tua  : Tidak perlu penyesuaian dosis. Dosis 1 kali sehari 30 mg.

Anak-anak : Tidak ada pengalaman pemberian lansoprazole pada anak-anak.

Lansoprazole dimetabolisme di hati.

Pada penderita penyakit hati, tidak perlu penyesuaian dosis, dosis tidak boleh melebihi 30 mg sehari.

Tidak perlu mengubah dosis pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.

Efek Samping

Sakit kepala, diare, nyeri abdomen, dispepsi, mual, muntah, mulut kering, sembelit, kembung, pusing, lelah, ruam kulit, urtikaria, pruritus.

Terjadi kenaikan nilai-nilai tes fungsi hati yang bersifat sementara dan akan normal kembali.

Kadang-kadang dapat terjadi artralgia, edema perifer dan depresi.

Kontraindikasi

Penderita yang hipersensitif terhadap lansoprazole.

Interaksi Obat

Lansoprazole dimetabolisme di hati, oleh sebab itu ada kemungkinan interaksi dengan obat-obat yang dimetabolisme di hati.

Terutama harus hati-hati bila diberikan bersama-sama dengan obat-obat kontrasepsi oral dan preparat seperti fenitoin, teofilin dan warfarin.

Antasida dan sukralfat akan mengurangi bioavailabilitas lansoprazole  dan jangan diberikan antara satu jam setelah makan lansoprazole.

Cara Penyimpanan

Simpan pada suhu 15 – 30°C, terlindung dari cahaya.

Perhatian

Penggunaan pada wanita hamil dan menyusui sebaiknya dihindari. Menyusui harus dihentikan apabila benar-benar dianggap perlu menggunakan lansoprazole.
Kemungkinan keganasan di lambung harus disingkirkan sebelum pengobatan diberikan, karena pengobatan dengan lansoprazole dapat menutupi gejala keganasan sehingga memperlambat penentuan diagnosa

 

 

Top of Form

 

Lihat Gambar Ukuran Besar

CODE: D5

Harga Per Satuan Terkecil: Rp750.00

 

Stock hubungi cs kami:100 item(s)

Quantity:

BELI 

Add to Wish List

Bottom of Form

Deskripsi

Kirim Ke Teman Anda

Harga Tersebut diatas Tidak Mengikat, Sewaktu-Waktu Dapat Berubah Tanpa Pemberitahuan Terlebih Dahulu

 

ALPRAZOLAN 0,5 MG

KOMPOSISI: 
ALPRAZOLAM 0,25
Tiap tablet mengandung: Alprazolam 0,25 mg

ALPRAZOLAM 0,5
Tiap tablet mengandung: Alprazolam 0,5 mg

ALPRAZOLAM 1
Tiap tablet mengandung: Alprazolam 1 mg

FARMAKOLOGI:
Antiansietas.
Pengobatan jangka pendek, ansietas sedang atau berat dan ansietas yang berhubungan dengan depresi.

KONTRAINDIKASI:

Pasien yang hipersensitif terhadap golongan benzodiazepm.

Glaukoma sudut sempit akut. .

Miastenia gravis, insufisiensi pulmonar akut, kondisi fobia dan obsesi psikosis kronik, anak dan bayi prematur.

DOSIS:

0,25-0,5 mg, 3 kali sehari. Jika perlu dosis dapat dinaikkan dengan interval 3-4 hari hingga’ maksimum 4 mg sehari dalam dosis terbagi.
Untuk pasien lanjut usia, debil (lemah) dan gangguan fungsi hati berat: 0,25 mg, 2-3 kali sehari, ditingkatkan bertahap jika perlu.

OVERDOSIS:

Penderita dirangsang untuk muntah dan pengosongan lambung. – Penderita dirawat intensif dengan terapi simtomatis dan suportif pemeliharaan fungsi kardiovaskular, pernafasan dan keseimbangan elektrolit.

PERINGATAN DAN PERHATIAN:

Dapat terjadi ketergantungan.

Jangan digunakan sebagai pengobatan tunggal pada pasien depresi atau kecemasan dengan depresi.

Selama menggunakan obat ini dilarang mengendarai atau mengoperasikan mesin.

Hati-hati bila diberikan pada wanita hamil dan menyusui, penderita penyakit hati dan ginjal kronik, penyakit respirasi, kelemahan otot dan riwayat penyalahgunaan obat atau alkohol, penderita kelainan kepribadian yang nyata.

Pemakaian pada anak di bawah usia 10 tahun tidak diketahui keamanannya dengan pasti.

Kurangi dosis pada lanjut usia dan debil (lemah).

Hindari pemakaian jangka panjang.

Hati-hati pemakaian pada penderita insufisiensi pulmonar kronik.

EFEK SAMPING:

Mengantuk, kelemahan otot, ataksia, amnesia, depresi, light-headedness, bingung, halusinasi, pandangan kabur.

Jarang terjadi: nyeri kepala, insomnia, reaksi paradoksikal, tremor, hipotensi, gangguan gastrointestinal, rash, perubahan libido, menstruasi tidak teratur, retensi urin, diskrasia darah dan ikterus.

INTERAKSI OBAT:

Efek ditingkatkan oleh depresan saraf pusat, alkohol, barbiturat.

Ekskresi dihambat oleh simetidin.

KEMASAN DAN NOMOR REGISTRASI:

ALPRAZOLAM 0,25 mg, Kotak, 10 strip @ 10 tablet, No. Reg.: GPL0405036610A1 ALPRAZOLAM 0,5 mg, Kotak, 10 strip® 10 tablet, No. Reg.: GPL0405036610B1 ALPRAZOLAM 1 mg, Kotak, 10 strip @ 10 tablet, No. Reg.: GPL0405036610C1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30°C), TERLINDUNG DARI CAHAYA.

Dibuat oleh:
DonjiitH
JL. BAMBANG UTOYO 138 PALEMBANG-INDONESIA

 

 

CHOLESPAR – TABLET SALUT SELAPUT

 

Tiap tablet salut selaput mengandung Pravastatin sodium 40 mg

CARA KERJA OBAT

Pravastatin sodium merupakan senyawa penurun lipid, bekerja secara kompetitif menghambat 3-hydroxy-3-methylglutaryl-coenzime A (HMG Co-A) reductase, suatu enzim yang bekerja pada tahap awal biosintesa kolesterol, pada perubahan HMG Co-A menjadi mevalonat.

INDIKASI

  • Pada pasien hiperkolesterolemia yang tidak menunjukan tanda-tanda penyakit jantung koroner, CHOLESPAR® (pravastatin sodium) di indikasikan untuk menurunkan resiko infark miokardial, di ikuti dengan prosedur revaskularisasi dan mengurangi resiko kematian akibat kardiovaskular tanpa adanya peningkatan angka kematian dari penyebab nonkardiovaskular.
  • Pada pasien hiperkolesterolemia dengan tanda – tanda adanya penyakit jantung koroner, CHOLESPAR® (pravastatin sodium) di indikasikan untuk mengurangi munculnya kematian koroner, infark miokardial di sertai dengan prosedur miokardial revaskularisasi, stroke dan koroner arterosklerosis yang berkembang secara lambat.
  • Hiperlipidemia :

CHOLESPAR® di indikasikan untuk mengurangi peningkatan Total-C, LDL-C, Apo B dan level TG pada pasien hiperkolesterolemia primer dan kombinasi dengan dyslipidemia (Fredrickson Type IIa dan IIb)

 

POSOLOGI

Pasien harus melakukan diet pengurangan kolesterol sebelum dan selama pengobatan dengan pravastatin.

  • Dosis awal yang di anjurkan 10 mg atau 20 mg 1 x sehari pada malam hari. Penderita hiperkolesterolemia primer yang mempunyai sejarah penyakit disfungsi hati atau ginjal, orang tua : dosis awal yang di anjurkan 10 mg sehari pada malam hari. Efek maksimum dapat terlihat dalam 4 minggu, dilakukan pengukuran lipid pada periode tersebut dan dilakukan penyesuaian dosis untuk menetapkan pengobatan berikutnya.

Range dosis yang di anjurkan pada umumnya 10-40 mg di berikan 1 kali sehari pada malam hari. Pada penderita usia lanjut, pengurangan maksimum kolesterol LDL dapat di peroleh pada dosis harian 20 mg atau kurang.

  • Pemberian bersama – sama dengan obat – obat immunosupresan (seperti siklosporin) dimulai dengan 10 mg Pravastatin sekali sehari pada malam hari. Penyesuaian dosis selanjutnya dengan hati-hati.

 

EFEK SAMPING

  • Gastrointestinal : mual, muntah, diare, dyspepsia, konstipasi, flatulens.
  • Skeletal : rabdomiolisis, miopati
  • SSP : pusing, sakit kepala
  • Efek samping lain yang pernah di laporkan : anemia, trombositopenia, leucopenia, eosinofilia asimptomatik sementara, ginekomastia, kehilangan libido, disfungsi erektif, mempercepat katarak, opthalmoplegia, pankreatitis, anoreksia.

 

PERINGATAN DAN PERHATIAN

  • Selama terapi dengan Pravastatin harus dilakukan pemeriksaan secara periodik. Pada pasien yang mengalami peningkatan kadar serum transaminase, perhatian khusus berupa pengukuran kadar transaminase harus di lakukan jika terjadi peningkatan yang menetap (hingga 3 kali batas normal atas) pengobatan segera di hentikan.
  • Hati – hati penggunaan pada pasien alkoholism dan atau yang mempunyai riwayat penyakit hati.
  • Pada penggunaan jangka panjang dianjurkan melakukan tes laboratorium secara periodik tiap 3 bulan untuk menentukan pengobatan selanjutnya.
  • Terapi dengan Pravastatin harus dihentikan sementara atau tidak dianjurkan pada penderita dengan miopati akut dan parah atau pada penderita dengan resiko kegagalan ginjal sekunder karena rabdomiolisis atau terjadi kenaikan Creatinin phosphokinase (CPK).
  • Penderita agar segera memberitahukan kepada dokter apabila terjadi nyeri otot yang tidak jelas, otot terasa lemas dan lemah.
  • Pravastatin tidak efektif pada pasien dengan “homozygous familial hypercholesterolemia”
  • Di anjurkan melakukan tes fungsi hati sebelum pengobatan dimulai dan 12 minggu setelah pengobatan pertama.
  • Keamanan dan efektivitas penggunaan untuk penderita di bawah 18 tahun belum di ketahui dengan pasti.

 

INTERAKSI OBAT

  • Resiko terjadinya miopati akan meningkat bila Pravastatin di berikan bersama-sama dengan HMCo-A reductase inhibitor yang lain dan terapi bersama dengan fibrat, siklosporin, eritomisin, niasin. Terapi kombinasi Pravastatin dan fibrat sebaiknya dihindari.
  • Pemberian bersamaan dengan kolestiramin/kolestipol akan menurunkan 40%-50% AUC rata-rata pravastatin. Oleh sebab itu agar pravastatin diberikan 1 jam sebelum atau 4 jam setelah pemberian kolestiramin/kolestipol.
  • Waktu protombin agar dimonitor bila antikoagulan tipe warfarin diberikan bersama pada pengobatan awal dan perubahan dosis pravastatin.
  • Nilai AUC’s Pravastatin berbeda bermakna jika diberikan dengan simetidin dibanding pemberian antasid.

 

OVER DOSIS

Di atasi dengan pengobatan simptomatik dan supportif.

 

CHOLESPAR® 40 mg Tablet Salut Selaput

Dus, 3 strip @ 10 Tablet Salut Selaput

 

Simpan di tempat sejuk dan kering, terlindung cahaya.

 

Harus dengan resep dokter

 

Manufactured by :

PT. PHAROS INDONESIA

Jakarta – Indonesia

 

Furosemide 40 mg

Teguh Budi Santoso – detikHealth


http://www.detik.com/u.php?url_share=http://www.detikhealth.com/read/2009/08/06/141642/1178584/769/furosemide-40-mg&base_domain=http://www.detikinet.com&url_title=Furosemide+40+mg&r=detikhealth
DATA OBAT, 
Deskripsi:
Furosemida adalah diuretik derivat asam antranilat. Aktivitas diuretik furosemida terutama dengan jalan menghambat absorpsi natrium dan klorida, tidak hanya pada tubulus proksimal dan tubulus distal, tapi juga pada loop of Henle.

Tempat kerja yang spesifik ini menghasilkan efektivitas kerja yang tinggi. Efektivitas kerja furosemida ditingkatkan dengan efek vasodilatasi dan penurunan hambatan vaskuler sehingga akan meningkatkan aliran darah ke ginjal. Furosemida juga menunjukkan aktivitas menurunkan tekanan darah sebagai akibat penurunan volume plasma.

Komposisi:
Tiap tablet mengandung 40 mg furosemida.

Indikasi:
Pengobatan edema yang menyertai payah jantung kongestif, sirosis hati dan gangguan ginjal termasuk sindrom nefrotik.
Pengobatan hipertensi, baik diberikan tunggal atau kombinasi dengan obat antihipertensi.
Furosemida sangat berguna untuk keadaan-keadaan yang membutuhkan diuretik kuat.
Pendukung diuresis yang dipaksakan pada keracunan.

Dosis:
Dewasa
Sehari  1 – 2 kali, 1 – 2 tablet.          

Dosis pemeliharaan, sehari 1 tablet.

Dosis maksimum, sehari 5 tablet.

Bila hasilnya belum memuaskan, dosis dapat ditingkatkan 20 mg (1 ampul) tiap interval waktu 2 jam sampai diperoleh hasil yang memuaskan.

Dosis individual:
20 mg (1 ampul), 1 – 2 kali sehari.

Edema paru-paru akut                             
Dosis awal : 40 mg (2 ampul) i.v.

Bila dibutuhkan dapat diberikan dosis lanjutan 20 – 40 mg (1 – 2 ampul ) setelah 20 menit.

Forced diuresis (diuresis yang dipaksakan).    

20 – 40 mg furosemida (1 – 2 ampul ) diberikan sebagai tambahan dalam infus elektrolit.

Selanjutnya tergantung pada eliminasi urin, termasuk penggantian cairan dan elektrolit yang hilang.

Pada keracunan karena asam atau basa, kecepatan eliminasi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan keasaman atau kebasaan urin.

Anak-anak:
Sehari 1 – 3 mg/kg BB.

 

 

 

FUROSEMIDE

 

Nama Generic: furosemide

KELAS OBAT DAN MEKANISME: furosemide adalah diuretik kuat (air pil) yang digunakan untuk menghilangkan air dan garam dari tubuh. Di ginjal, garam (terdiri dari natrium dan klorida), air, dan molekul kecil lainnya yang biasanya akan disaring keluar dari darah dan masuk ke dalam tubulus ginjal. Akhirnya cairan yang disaring menjadi air seni. Sebagian besar natrium, klorida dan air yang disaring dari darah diserap ke dalam darah sebelum cairan disaring menjadi air kencing dan dihilangkan dari tubuh. Furosemide bekerja dengan menghalangi penyerapan natrium, klorida, dan air dari cairan yang disaring dalam tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan yang mendalam output urin (diuresis). Awal tindakan setelah oral adalah dalam waktu satu jam, dan diuresis berlangsung sekitar 6-8 jam. Tindakan awal setelah injeksi adalah lima menit dan durasi diuresis adalah dua jam. Efek yang diuretik furosemide dapat menyebabkan penurunan natrium, klorida, tubuh air dan mineral lainnya. Oleh karena itu, berhati-hati pengawasan medis yang diperlukan selama perawatan. Furosemide disetujui FDA pada bulan Juli 1982.

 

Persiapan: Tablet: 20, 40, dan 80mg. Solusi oral: 10 mg / ml, 40 mg / 5 ml. Injeksi: 10 mg / ml

 

Penyimpanan: furosemide harus disimpan pada suhu kamar dalam wadah tahan cahaya.

 

Diresepkan untuk: furosemide adalah diuretik kuat yang digunakan untuk mengobati akumulasi cairan yang berlebihan dan / atau bengkak (edema) dari tubuh disebabkan oleh gagal jantung, sirosis, gagal ginjal kronis, dan sindrom nefrotik. Kadang-kadang digunakan sendiri atau bersama-sama dengan tekanan darah pil untuk mengobati tekanan darah tinggi.

 

Dosis: awal yang biasa dosis oral untuk pengobatan edema pada orang dewasa adalah 20-80 mg sebagai dosis tunggal. Dosis yang sama atau peningkatan dosis dapat diberikan 6-8 jam kemudian. Dosis dapat ditingkatkan 20-40 mg setiap 6-8 jam sampai efek yang diinginkan terjadi. Dosis yang efektif dapat diberikan sekali atau dua kali sehari. Beberapa pasien mungkin memerlukan 600 mg setiap hari. Dosis oral awal bagi anak-anak adalah 2 mg / kg. Dosis awal dapat ditingkatkan dengan 1-2 mg / kg setiap 6 jam sampai efek yang diinginkan tercapai. Dosis lebih besar dari 6 mg / kg tidak dianjurkan. Dosis yang dianjurkan untuk mengobati hipertensi adalah 40 mg dua kali sehari.

 

Interaksi obat: Administrasi furosemide dengan antibiotik aminoglikosida (misalnya, gentamisin) atau [ethacrynic asam (Edecrin) – diuretik lain] dapat menyebabkan kerusakan pendengaran. Furosemide bersaing dengan aspirin untuk penghapusan dalam urin oleh ginjal. Seiring penggunaan furosemide dan aspirin mungkin, karena itu, menyebabkan darah tinggi tingkat keracunan aspirin dan aspirin. Furosemide juga dapat mengurangi ekskresi litium (Eskalith, Lithobid) oleh ginjal, menyebabkan peningkatan kadar lithium dan kemungkinan efek samping dari litium. Sucralfate (Carafate) mengurangi tindakanfurosemide oleh furosemide mengikat dalam usus dan mencegah para penyerapan ke dalam tubuh. Menelan sucralfate furosemide dan harus dipisahkan oleh dua jam.

 

KEHAMILAN: Tidak ada penelitian yang memadai furosemide pada wanita hamil.

 

IBU MENYUSUI: furosemide disekresi dalam ASI. Ibu menyusui harus menghindari menyusui saat mengambil furosemide.

 

Efek Samping: Efek samping yang umum dari furosemide termasuk tekanan darah rendah, dehidrasi dan elektrolit penipisan (misalnya, natrium, kalium). Efek samping yang kurang umum termasuk penyakit kuning, dering di telinga (tinnitus), kepekaan terhadap cahaya (ketakutan dipotret), ruam, pankreatitis, mual, diare, sakit perut, dan pusing. Peningkatan gula darah dan kadar asam urat juga dapat terjadi.

 

PERINGATAN: Ini adalah obat yang sangat kuat. Menggunakan terlalu banyak obat ini dapat menyebabkan air dan mineral yang serius kehilangan. Oleh karena itu, penting bahwa Anda sangat erat dipantau oleh dokter Anda. Katakan kepada dokter Anda segera jika Anda menjadi sangat haus atau bingung, atau mengembangkan kejang otot / kelemahan saat mengambil obat ini. Lihat juga bagian Efek Samping.

 

PENGGUNAAN: furosemide adalah “air pil” (diuretik) yang meningkatkan jumlah urin yang dibuat, yang menyebabkan tubuh Anda untuk membuang kelebihan air. Obat ini digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi. Menurunkan tekanan darah tinggi membantu mencegah stroke, serangan jantung, dan ginjal. Obat ini juga mengurangi bengkak / retensi cairan (edema) yang dapat disebabkan oleh kondisi seperti gagal jantung kongestif, penyakit hati, atau penyakit ginjal. Hal ini dapat membantu meningkatkan gejala seperti sesak napas.

 

CARA PEMAKAIAN: Ambil obat ini melalui mulut dengan atau tanpa makanan, biasanya sekali atau dua kali sehari, atau seperti diarahkan oleh dokter Anda. Dosis didasarkan pada kondisi medis anda dan respons terhadap terapi. Pada anak-anak, dosis lebih besar dari 6 mg per kilogram berat badan tidak dianjurkan. Cara terbaik adalah untuk mengambil obat ini di awal hari, sebelum 4-6, untuk mencegah harus bangun sepanjang malam untuk buang air kecil. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker Anda jika Anda memiliki pertanyaan tentang jadwal pemberian dosis. Gunakan obat ini secara teratur untuk mendapatkan banyak keuntungan darinya. Ingatlah untuk menggunakannya pada waktu yang sama (s) dari hari sesuai petunjuk. Penting untuk melanjutkan pengambilan obat ini bahkan jika Anda merasa baik. Kebanyakan orang dengan tekanan darah tinggi tidak merasa sakit. Jangan berhenti minum obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter Anda. Sucralfate, cholestyramine, dan colestipol dapat mengurangi penyerapan furosemide. Jika Anda sedang mengonsumsi obat ini, pisahkan dari furosemide oleh minimal 2 jam. Jika kondisi tersebut terus berlangsung atau memburuk, hubungi dokter atau apoteker.

 

Efek Samping: Pusing, sakit kepala ringan, sakit kepala, penglihatan kabur, kehilangan nafsu makan, sakit perut, diare, atau konstipasi dapat terjadi karena tubuh Anda menyesuaikan obat. Jika salah satu dari efek-efek ini menetap atau memburuk, beritahu dokter atau apoteker Anda segera. Obat ini berlebihan dapat menyebabkan tubuh kehilangan air dan mineral (termasuk kalium). Katakan kepada dokter Anda segera jika Anda memiliki kemungkinan ini, tetapi gejala dehidrasi serius atau mineral kerugian: kejang otot atau kelemahan, kebingungan, pusing berat, mengantuk, mulut kering yang tidak biasa atau haus, mual atau muntah, cepat / tidak beraturan detak jantung, penurunan yang tidak biasa jumlah urin, pingsan, kejang-kejang. Katakan kepada dokter Anda segera jika salah satu tidak mungkin tetapi efek samping yang serius terjadi: mati rasa / kesemutan dari lengan / kaki, dering di telinga, gangguan pendengaran. Katakan kepada dokter Anda segera jika salah satu sangat tidak mungkin, tetapi efek samping yang sangat serius terjadi: tanda-tanda infeksi (misalnya, demam, sakit tenggorokan persisten), mudah perdarahan atau memar, perut / nyeri perut, yang terus-menerus mual / muntah, menguning mata / kulit . Serius reaksi alergi terhadap obat ini tidak mungkin, tetapi segera mencari bantuan medis jika terjadi. Gejala reaksi alergi yang serius termasuk: ruam, gatal, bengkak, pusing berat, sesak napas. Jika anda melihat efek lain yang tidak tercantum di atas, hubungi dokter atau apoteker.

 

TINDAKAN: Sebelum mengambil furosemide, beritahu dokter atau apoteker Anda jika Anda alergi terhadap hal itu; atau obat-obatan sulfa, atau jika Anda memiliki alergi lain. Obat ini tidak boleh digunakan jika Anda memiliki kondisi medis tertentu. Sebelum menggunakan obat ini, konsultasikan dengan dokter atau apoteker Anda jika Anda telah: penyakit ginjal berat (ketidakmampuan untuk membuat urin atau anuria). Sebelum menggunakan obat ini, beritahu dokter atau apoteker Anda riwayat kesehatan, khususnya dari: penyakit ginjal, penyakit hati, tidak diobati ketidakseimbangan mineral (misalnya, natrium, kalium), gout, lupus. Jika Anda memiliki diabetes, furosemide dapat memperburuk kontrol kadar glukosa darah. Monitor kadar glukosa darah Anda secara teratur dan memberitahu dokter Anda hasil. Obat ini dapat mengurangi kadar kalium dalam darah. Tanyakan kepada dokter Anda tentang cara menambahkan potasium untuk diet Anda. Sebuah suplemen kalium dapat diresepkan oleh dokter Anda. Obat ini mungkin akan membuat Anda lebih sensitif terhadap matahari. Hindari paparan sinar matahari berkepanjangan, tanning booths atau sunlamps. Gunakan tabir surya dan memakai pakaian pelindung ketika di luar rumah. Sebelum menjalani operasi, beritahu dokter atau dokter gigi yang kita pakai obat ini. Obat ini mungkin membuat Anda pusing, mengantuk, atau menyebabkan penglihatan kabur; menggunakan hati-hati terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang memerlukan kewaspadaan seperti mengendarai atau menggunakan mesin. Batasi minuman beralkohol. Untuk meminimalkan pusing dan kepala ringan, bangun perlahan ketika bangkit dari duduk atau posisi berbaring. Disarankan hati-hati ketika menggunakan obat ini pada orang tua karena mereka mungkin lebih sensitif terhadap efek, terutama pusing. Furosemide harus digunakan hanya ketika jelas diperlukan selama kehamilan. Diskusikan risiko dan manfaat dengan dokter Anda. Obat ini masuk ke dalam ASI. Konsultasikan dengan dokter Anda sebelum menyusui.

 

 

Interaksi obat: Lihat juga bagian Cara Menggunakan. Obat ini tidak boleh digunakan dengan obat-obatan berikut karena interaksi yang sangat serius mungkin terjadi: cisapride, ethacrynic asam. Jika Anda sedang menggunakan salah satu obat-obat ini, beritahu dokter atau apoteker sebelum memulai furosemide. Sebelum menggunakan obat-obatan ini, beritahu dokter atau apoteker Anda dari semua resep dan nonprescription / jamu yang mungkin Anda gunakan, khususnya dari: obat lain yang dapat mempengaruhi pendengaran / keseimbangan (misalnya, antibiotik aminoglikosida seperti gentamisin, tobramisin), amfoterisin B, cholestyramine, sisplatin, colestipol, kortikosteroid (misalnya prednison), digoxin, lithium, non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAIDs seperti ibuprofen, indometasin), dosis aspirin dan obat-obatan seperti aspirin (salisilat), sucralfate. Periksa label pada semua obat-obatan (misalnya, batuk-dan-produk dingin, diet bantu, NSAID untuk rasa sakit / demam pengurangan) karena mereka mungkin mengandung bahan-bahan yang dapat meningkatkan tekanan darah atau pembengkakan (edema). Tanyakan kepada apoteker tentang penggunaan yang aman dari produk tersebut. Jangan memulai atau menghentikan obat tanpa persetujuan dokter atau apoteker.

 

 

Komposisi

Methylprednisolone 125 mg

Tiap vial mengandung:

Metilprednisolon natrium suksinat setara dengan

Metilprednisolon 125 mg

 

Methylprednisolone 500 mg

Tiap vial mengandung:

Metilprednisolon natrium suksinat setara dengan

Metilprednisolon 500 mg

 

Farmakologi:

Metilprednisolon merupakan kortikosteroid dengan kerja intermediate yang termasuk kategori adrenokortikoid, antiinflamasi dan imunosupresan.

Adrenokortikoid:

Sebagai adrenokortikoid, metilprednisolon berdifusi melewati membran dan membentuk komplek dengan reseptor sitoplasmik spesifik. Komplek tersebut kemudian memasuki inti sel, berikatan dengan DNA, dan menstimulasi rekaman messenger RNA (mRNA) dan selanjutnya sintesis protein dari berbagai enzim akan bertanggung jawab pada efek sistemik adrenokortikoid. Bagaimanapun, obat ini dapat menekan perekaman mRNA di beberapa sel (contohnya: limfosit).

Efek Glukokortikoid:

Anti-inflamasi (steroidal)

Glukokortikoid menurunkan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi, karena itu menurunkan gejala inflamasi tanpa dipengaruhi penyebabnya.

Glukokortikoid menghambat akumulasi sel inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada lokasi inflamasi. Metilprednisolon juga menghambat fagositosis, pelepasan enzim lisosomal, sintesis dan atau pelepasan beberapa mediator kimia inflamasi. Meskipun mekanisme yang pasti belum diketahui secara lengkap, kemungkinan efeknya melalui blokade faktor penghambat makrofag (MIF), menghambat lokalisasi makrofag: reduksi atau dilatasi permeabilitas kapiler yang terinflamasi dan mengurangi lekatan leukosit pada endotelium kapiler, menghambat pembentukan edema dan migrasi leukosit; dan meningkatkan sintesis lipomodulin(macrocortin), suatu inhibitor fosfolipase A2-mediasi pelepasan asam arakhidonat dari membran fosfolipid, dan hambatan selanjutnya terhadap sintesis asam arakhidonat-mediator inflamasi derivat (prostaglandin, tromboksan dan leukotrien). Kerja immunosupresan juga dapat mempengaruhi efek antiinflamasi.

Immunosupresan

Mekanisme kerja immunosupresan belum dimengerti secara lengkap tetapi kemungkinan dengan pencegahan atau penekanan sel mediasi (hipersensitivitas tertunda) reaksi imun seperti halnya tindakan yang lebih spesifik yang mempengaruhi respon imun, Glukokortikoid mengurangi konsentrasi limfosit timus (T-limfosit), monosit, dan eosinofil. Metilprednisolon juga menurunkan ikatan immunoglobulin ke reseptor permukaan sel dan menghambat sintesis dan atau pelepasan interleukin, sehingga T-limfosit blastogenesis menurun dan mengurangi perluasan respon immun primer. Glukokortikoid juga dapat menurunkan lintasan kompleks immun melalui dasar membran, konsentrasi komponen pelengkap dan immunoglobulin.

 

Indikasi:

  • Abnormalitas fungsi adrenokortikal, untuk pengobatan:
  • Insufisiensi adrenokortikal akut dan kronik primer:

Hidrokortison dan kortison lebih dipilih sebagai terapi pengganti karena aktivitas mineralokortikoidnya yang berarti. Penggantian sodium dan cairan juga dibutuhkan. Pada beberapa pasien penggantian mineralokortikoid tambahan juga mungkin diperlukan.

  • Insufisiensi adrenokortikoid sekunder:

Penggantian dengan glukokortikoid umumnya mencukupi, mineralokortikoid tidak selalu dibutuhkan.

  • Gangguan alergi:
  • Reaksi alergi karena obat.
  • Reaksi anafilaktik atau anaphytold (pengobatan tambahan)

Penggunaan glukokortikoid umumnya untuk reaksi lambat (yang tidak berhasil dengan tindakan lain dalam 1 jam), atau situasi dimana dapat timbul resiko kekambuhan.

  • Angioderma (pengobatan tambahan)
  • Laringeal edema akut non infeksi.
  • Rinitis alergi parennial (tahunan) atau seasonal (musiman).
  • Pengobatan sakit karena serum.
  • Reaksi transfusi urtikaria.
  • Gangguan kolagen:

Diindikasikan selama eksaserbasi akut atau terapi perawatan pada kasus-kasus berikut:

  • Carditis rheumatik (atau non rheumatik) akut.
  • Dermatomiositis sistemik (polimiositis):

Glukokortikoid mungkin merupakan obat pilihan pada anak dengan kondisi demikian.

  • Lupus eritematosus sistemik.
  • Arteritis giant-cell (temporal).
  • Penyakit jaringan ikat campuran.
  • Poliarteritis nodosa.
  • Polikondritis kambuhan.
  • Polimialgia rheumatik.
  • Vaskulitis.
  • Gangguan pada kulit:
  • Dermatitis yang bersifat atopik, kontak, eksfoliatif.
  • Dermatitis herpetiformis bullous.
  • Dermatitis seboreik berat.
  • Dermatitis inflamatori berat.
  • Eritema multiforma berat (sindrom Stevens-Johnson)
  • Mikosis fungoides.
  • Phemphigus.
  • Psoriasis berat.
  • Pemphigoid.
  • Sarkoid kutan lokalisasi.
  • Gangguan saluran pencernaan:

Diindikasikan untuk pengobatan inflamasi pada usus besar seperti di bawah ini:

  • Inflamasi pada usus besar, termasuk colitis ulceratif.
  • Enteritis regional (penyakit Crohn)
  • Penyakit celiac berat.
  • Pemberian secara oral atau parenteral diindikasikan bila terapi sistemik dibutuhkan selama periode kritis penyakit, pemberian dalam jangka waktu lama tidak direkomendasikan.
  • Gangguan darah:
  • Anemia hemolitik yang diperoleh (oto imun)
  • Anemia hipoplastik bawaan (eritroid)
  • Anemia sel darah merah (eritoblastopenia)
  • Trombositopenia sekunder (pada orang dewasa)
  • Trombositopenia purpura idiopatik pada orang dewasa (secara oral atau i.v. Saja, kontraindikasi untuk injeksi i.m.)
  • Hemolisis.
  • Penyakit hati:
  • Hepatitis alkoholik dengan enselofati.
  • Hepatitis kronis aktif.
  • Hepatitis non alkoholik pada wanita.
  • Nekrosis hepatik sub akut.
  • Hiperkalsemia yang berhubungan dengan neoplasma (atau sarkoidosis).
  • Inflamasi non rheumatik:
  • Diindikasikan selama episode akut atau eksaserbasi dari gangguan-gangguan di bawah ini. Injeksi lokal lebih baik dilakukan bila hanya beberapa sendi atau daerah yang terkena.
  • Bursitis akut atau sub akut.
  • Epikondilitis.
  • Tenosinovitis nonspesifik akut.
  • Penyakit neoplastik (pengobatan tambahan):

Diindikasikan bersama dengan terapi penyakit antineoplastik spesifik yang sesuai, untuk meringankan penyakit neoplastik berikut ini beserta problem yang berhubungan:

  • Leukemia akut atau limfositik kronik.
  • Limfoma Hodgkin atau non-Hodgkin.
  • Kanker payudara.
  • Kanker prostat.
  • Demam yang disebabkan kanker ganas.
  • Mieloma ganda.
  • Sindroma nefrotik:

Diindikasikan untuk menginduksi diuresis atau mengurangi gejala proteinuria pada sindrom idiopatik nefrotik, terapi jangka panjang mungkin diperlukan untuk mencegah kekambuhan.

  • Penyakit neurologik:
  • Meningitis tuberkulosa (pengobatan tambahan), diindikasikan untuk pemberian bersama dengan kemoterapi anti tuberkulosa pada pasien dengan blok subarakhnoid.
  • Sklerosis ganda, diindikasikan untuk pengobatan penyakit eksaserbasi akut.
  • Neurotrauma: luka pada tulang belakang.
  • Gangguan pada mata:

Diindikasikan untuk pengobatan alergi kronis atau akut dan kondisi inflamasi oftalmik, seperti:

  • Klorioretinitis.
  • Koroiditis posterior difusi.
  • Konjungtivitis alergi (yang tidak dapat diatasi secara topikal).
  • Herpes zoster.
  • Iridosiklitis.
  • Keratis yang tidak berhubungan dengan herpes simpleks atau infeksi fungal.
  • Neuritis optik.
  • Oftalmia simpatika.
  • Uveitis posterior difusi.
  • Perikarditis: digunakan untuk menghilangkan inflamasi dan demam.
  • Polip nasal.
  • Gangguan pernafasan:

Untuk pengobatan dan profilaksis.

Profilaksis:

Diberikan sebelum atau selama pembedahan jantung jika pasien mempunyai gangguan pre-exiting pulmonary dan diberikan sebelum, selama dan setelah pembedahan oral, facial, atau leher untuk mencegah edema yang dapat menghambat jalan nafas.

Pengobatan:

  • Asma bronkial
  • Berillosis
  • Sindrom Loeffler (pneumonitis eosinofil atau sindrom hipereosinofil).
  • Pneumonia aspirasi.
  • Sarkoidosis simptomatik.
  • Tuberkulose paru-paru yang tersebar atau fulminant (pengobatan tambahan): diberikan bersamaan dengan kemoterapi anti tuberkulosa yang sesuai.
  • Bronkitis asmatik akut dan kronik.
  • Edema pulmonari nonkardiogenik (disebabkan sensitivitas protamin): pengobatan sebaiknya diberikan dalam injeksi i.v. atau i.m.
  • Hemangioma, obstruksi saluran nafas pada anak: pengobatan sebaiknya diberikan dalam injeksi i.v. atau i.m.
  • Pneumonia, pneumosistitis carinii, yang berhubungan dengan sindrom immunodefisiensi yang diperoleh (pengobatan tambahan).
  • Pada penderita AIDS atau yang mengidap infeksi HIV yang terkena pneumonia pneumocystis.
  • Penyakit paru-paru, obstruksi kronis (yang tidak dapat dikontrol dengan teofilin dan β-adrenergik agonis).
  • Status asmatikus: pemberian harus secara i.v. atau i.m.
  • Gangguan rheumatik:

Injeksi lokal dilakukan bila hanya beberapa sendi atau area yang terlibat. Diindikasikan sebagai terapi tambahan selama episode akut atau eksaserbasi gangguan rheumatik seperti:

  • Ankilosing spondilitis.
  • Arthritis psoriatik.
  • Arthritis reumatoid (termasuk arthritis pada anak-anak);

Untuk pasien yang tidak dapat lagi diobati dengan aspirin, antiinflamasi non steroidal, istirahat, dan terapi fisik.

  • Gout arthritis akut.
  • Osteoarthritis post traumatik.
  • Sinovitis osteoarthritis.
  • Penyakit deposisi kalsium pirofosfat akut (pseudogout; kondrokalsinosis artikularis; sinovitis, yang disebabkan oleh kristal).
  • Polimialgia rheumatik.
  • Penyakit reiter.
  • Pengobatan shock: akibat insufisiensi adrenokortikal.
  • Pengobatan tiroiditis non supuratif.
  • Pencegahan dan pengobatan penolakan pencangkokan organ:

diberikan bersamaan dengan immunosupresan lainnya sepertiazathioprine atau siklosporin.

  • Pengobatan trikinosis.

 

Kontraindikasi:

  • Infeksi jamur sistemik dan hipersensitivitas terhadap bahan obat.
  • Bayi prematur.
  • Pemberian jangka lama pada penderita ulkus duodenum dan peptikum, osteoporosis berat, penderita dengan riwayat penyakit jiwa, herpes.
  • Pasien yang sedang diimunisasi.

 

Dosis:

Dewasa

Secara intramuskular atau intravena, 10-40 mg (base), diulangi sesuai keperluan.

  • Untuk dosis tinggi (pulse terapi): intravena, 30 mg (base) per kg berat badan diberikan sekurang-kurangnya 30 menit. Dosis dapat diulangi setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan.
  • Untuk eksaserbasi akut pada sklerosis ganda: intramuskular atau intravena, 160 mg (base) perhari selama satu minggu, diikuti dengan 64 mg setiap hari selama satu bulan.
  • Untuk pengobatan luka tulang punggung akut: intravena, 30 mg (base) per kg berat badan diberikan selama 15 menit, diikuti dengan 45 menit infus, 5,4 mg per kg berat badan per jam, selama 23 jam.
  • Untuk pengobatan tambahan pada AIDS yang berhubungan dengan pneumosistis carinii: intravena, 30 mg (base) dua kali sehari pada hari pertama sampai kelima, 30 mg sekali sehari pada hari keenam sampai kesepuluh, 15 mg sekali sehari pada hari ke sebelas sampai dua puluh satu.

Bayi dan anak:

  • Insufisiensi adrenokortikal: intramuskular, 117 mikrogram (0,117 mg) (base) per kg berat badan atau 3,33 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh sehari (dalam dosis terbagi tiga) setiap hari ke tiga; atau 39 sampai 58,5 mikrogram (0,039 sampai 0,0585 mg) (base) per kg berat badan atau 1,11 sampai 1,66 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh sekali sehari.
  • Untuk pengobatan luka tulang punggung akut: intravena, 30 mg (base) per kg berat badan diberikan selama 15 menit, diikuti selama 45 menit dengan infus 5,4 mg per kg berat badan per jam, selama 23 jam.
  • Indikasi lain: intramuskular, 139-835 mikrogram (0,139-0,835 mg) (base) per kg berat badan atau 4,16-25 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh setiap 12 sampai 24 jam.
  • Untuk pengobatan tambahan pada AIDS yang berhubungan dengan pneumosistis carinii: Anak-anak berusia 13 tahun atau kurang: dosis belum ditentukan secara pasti. Anak-anak berusia lebih dari 13 tahun: sama dengan dosis dewasa.

 

Cara pemberian:

Untuk intramuskular atau intravena:

Rekonstitusi serbuk dengan larutan injeksi yang telah disediakan (mengandung benzyl alkohol 0,9%), kocok hingga larut. Pemberian dengan intravena langsung dapat diberikan selama sekurang-kurangnya 1 menit, atau dapat diberikan secara infus intravena dalam 5% dekstrosa, NACl 0,9% atau dektrosa 0,5% dalam NaCl 0,9% selama sekurang-kurangnya 30 menit. Larutan stabil secara fisika dan kimia selama 48 jam.

 

Efek samping:

  • Insufisiensi adrenokortikal:

Dosis tinggi untuk periode lama dapat terjadi penurunan sekresi endogeneous kortikosteroid dengan menekan pelepasan kortikotropin pituitary insufisiensi adrenokortikal sekunder.

  • Efek muskuloskeletal:

Nyeri atau lemah otot, penyembuhan luka yang tertunda, dan atropi matriks protein tulang yang menyebabkan osteoporosis, retak tulang belakang karena tekanan, nekrosis aseptik pangkal humerat atau femorat, atau retak patologi tulang panjang.

  • Gangguan cairan dan elektrolit:

Retensi sodium yang menimbulkan edema, kekurangan kalium, hipokalemik alkalosis, hipertensi, serangan jantung kongestif.

  • Efek pada mata:

Katarak subkapsular posterior, peningkatan tekanan intra okular, glaukoma, eksoftalmus.

  • Efek endokrin:

Menstruasi yang tidak teratur, timbulnya keadaan cushingoid, hambatan pertumbuhan pada anak, toleransi glukosa menurun, hiperglikemia, bahaya diabetes mellitus.

  • Efek pada saluran cerna:

Mual, muntah, anoreksia yang berakibat turunnya berat badan, peningkatan selera makan yang berakibat naiknya berat badan, diare atau konstipasi, distensi abdominal, pankreatitis, iritasi lambung, ulceratif esofagitis.

  • Juga menimbulkan reaktivasi, perforasi, perdarahan dan penyembuhan peptik ulcer yang tertunda.
  • Efek sistem syaraf:

Sakit kepala, vertigo, insomnia, peningkatan aktivitas motor, iskemik neuropati, abnormalitas EEG, konvulsi.

  • Efek dermatologi:

Atropi kulit, jerawat, peningkatan keringat, hirsutisme, eritema fasial, striae, alergi dermatitis, urtikaria, angiodema.

  • Efek samping lain:

Penghentian pemakaian glukokortikoid secara tiba-tiba akan menimbulkan efek mual, muntah, kehilangan nafsu makan, letargi, sakit kepala, demam, nyeri sendi, deskuamasi, mialgia, kehilangan berat badan, dan atau hipotensi.

 

Peringatan dan perhatian:

  • Wanita hamil dan ibu menyusui.

Dapat menyebabkan kerusakan fetus bila diberikan pada wanita hamil. Kortikosteroid dapat berdifusi ke air susu dan dapat menekan pertumbuhan atau efek samping lainnya pada bayi yang disusui.

  • Anak-anak

Pemberian dosis farmakologi glukokortikoid pada anak-anak bila mungkin sebaiknya dihindari, karena obat dapat menghambat pertumbuhan tulang. Jika terapi diperlukan harus diamati pertumbuhan bayi dan anak secara seksama. Alternate-day therapy, yaitu pemberian dosis tunggal setiap pagi hari, meminimalkan hambatan pertumbuhan dan sebaiknya diganti bila terjadi hambatan pertumbuhan. Dosis tinggi glukokortikoid pada anak dapat menyebabkan pankreatitis akut yang kemudian menyebabkan kerusakan pankreas.

  • Pasien lanjut usia.

Dapat terjadi hipertensi selama terapi adrenokortikoid. Pasien lanjut usia, terutama wanita postmenopausal, akan lebih mudah terkena osteoporosis yang diinduksi glukokortikoid.

  • Sementara pasien menerima terapi kortikosteroid, dianjurkan tidak divaksinasi terhadap Smalpox juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis tinggi, untuk mencegah kemungkinan bahaya komplikasi neurologi.
  • Jika kortikosteroid digunakan pada pasien dengan TBC laten atau tuberculin reactivity perlu dilakukan pengawasan yang teliti sebagai pengaktifan kembali penyakit yang dapat terjadi.
  • Tidak dianjurkan pada pasien dengan ocular herpes simplexkarena kemungkinan terjadi perforasi korneal.
  • Pemakaian obat ini dapat menekan gejala-gejala klinik dari suatu penyakit infeksi.
  • Pemakaian jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi.

 

Interaksi obat:

  • Enzim penginduksi mikrosom hepatik.

Obat seperti barbiturat, fenitoin dan rifampin yang menginduksi enzim hepatik dapat meningkatkan metabolisme glukokortikoid, sehingga mungkin diperlukan dosis tambahan atau obat tersebut tidak diberikan bersamaan.

  • Anti inflamasi nonsteroidal.

Pemberian bersamaan dengan obat ulcerogenik seperti indometasin dapat meningkatkan resiko ulcerasi saluran pencernaan. Aspirin harus diberikan secara hati-hati pada pasien hipotrombinernia. Meskipun pemberian bersamaan dengan salisilat tidak tampak meningkatkan terjadinya ulcerasi saluran pencernaan, kemungkinan efek ini harus dipertimbangkan.

  • Obat yang mengurangi kalium.

Diuretik yang mengurangi kadar kalium (contoh: thiazida, furosemida, asam etakrinat) dan obat lainnya yang mengurangi kalium oleh glukokortikoid. Serum kalium harus dimonitor secara seksama bila pasien diberikan obat bersamaan dengan obat yang mengurangi kalium.

  • Bahan antikolinesterase.

Interaksi antara glukokortikoid dan antikolinesterase seperti ambenonium, neostigmin, atau pyridostigmin dapat menimbulkan kelemahan pada pasien dengan myasthenia gravis. Jika mungkin, pengobatan antikolinesterase harus dihentikan 24 jam sebelum pemberian awal terapi glukokortikoid.

  • Vaksin dan toksoid.

Karena kortikosteroid menghambat respon antibodi, obat dapat menyebabkan pengurangan respon toksoid dan vaksin inaktivasi atau hidup.

 

Cara penyimpanan:

Simpan ditempat kering dan sejuk, terlindung dari cahaya.

Sebelum dan sesudah rekonstitusi, simpan pada suhu antara 15-30C.

Gunakan larutan sebelum 48 jam setelah direkonstitusi.

 

Kemasan dan Nomor Registrasi:

METHYLPREDNISOLONE 125

Kotak, 1 vial @ 125 mg metilprednisolon kering dan 1 ampul @ 2 ml pelarut, GKL0405037244A1

 

METHYLPREDNISOLONE 500

Kotak, 1 vial @ 500 mg metilprednisolon kering dan 1 ampul @ 8 ml pelarut, GKL0405037244B1

 

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

 

SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30)C,

TERLINDUNG DARI CAHAYA

METHYLPREDNISOLONE

TABLET

 

 

Komposisi:

METHYLPREDNISOLONE 4 mg

Tiap tablet mengandung

Metilprednisolon 4 mg

 

METHYLPREDNISOLONE 8 mg

Tiap tablet mengandung

Metilprednisolon 8 mg

 

METHYLPREDNISOLONE 16 mg

Tiap tablet mengandung

Metilprednisolon 16 mg

 

Farmakologi:

Metilprednisolon adalah glukokortioid turunan prednisolon yang mempunyai efek kerja dan penggunaan yang sama seperti senyawa induknya. Metilprednisolon tidak mempunyai aktivitas retensi natrium seperti glukokortikoid yang lain.

 

Indikasi:

Abnormalitas fungsi adrenokortikal, penyakit kolagen, keadaan alergi dan peradangan pada kulit dan saluran pernafasan tertentu, penyakit hematologik, hiperkalsemia sehubungan dengan kanker.

 

Kontraindikasi:

  • Infeksi jamur sistemik dan pasien yang hipersensitif.
  • Pemberian kortikosterooid yang lama merupakan kontraindikasi pada ulkus duodenum dan peptikum, osteoporosis berat, penderita dengan riwayat penyakit jiwa, herpes.
  • Pasien yang sedang diimunisasi.

 

Dosis:

  • Dewasa:

Dosis awal dari metilprednisolon dapat bermacam-macam dari 4 mg 48 mg per hari, dosis tunggal atau terbagi, tergantung keadaan penyakit.

Dalam multiple sklerosis:

Oral 160 mg sehari selama 1 minggu, kemudian 64 mg setiap 2 hari sekali dalam 1 bulan.

  • Anak-anak:

Insufisiensi adrenokortikal:

Oral 0,117 mg/kg bobot tubuh atau 3,33 mg per m2 luas permukaan tubuh sehari dalam dosis terbagi tiga.

  • Indikasi lain:

Oral 0,417 mg 1,67 mg per kg berat tubuh atau 12,5 mg 50 mg per m2 luas permukaan tubuh sehari dalam dosis terbagi 3 atau 4.

 

Efek samping:

Efek samping biasanya terlihat pada pemberian jangka panjang atau pemberian dalam dosis besar, misalnya gangguan elektrolit dan cairan tubuh, kelemahan otot, resistensi terhadap infeksi menurun, gangguan penyembuhan luka, meningkatnya tekanan darah, katarak, gaangguan pertumbuhan pada anak-anak, insufisiensi adrenal,cushing syndrome, osteoporosis, tukak lambung.

 

Peringatan dan perhatian:

  • Tidak dianjurkan untuk wanita hamil dan menyusui, kecuali memang benar-benar dibutuhkan, dan bayi yang lahir dari ibu yang ketika hamil menerima terapi kortikosteroid ini harus diperiksa. Kemungkinan adanya gejala hipoadrenalism.
  • Pasien yang menerima terapi kortikosteroid ini dianjurkan tidak divaksinasi terhadap smallpox, juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis tinggi, untuk mencegah kemungkinan bahaya komplikasi neurologi.
  • Tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak, karena penggunaaan jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.
  • Jika kortikosteroid digunakan pada pasien dengan TBC latent atau Tuber Culin Reactivity perlu dilakukan pengawasan yang teliti sebagai pengaktifan kembali penyakit yang dapat terjadi.
  • Ada peningkatan efek kortikosteroid pada pasien dengan hipotiroidi dari cirrhosis.
  • Tidak dianjurkan penggunaan pada penderita ocular herpes simplex, karena kemungkinan terjadi perforasi corneal.
  • Pemakaian obat ini dapat menekan gejala-gejala klinis dari suatu penyakit infeksi.
  • Pemakaian jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi.

 

Interaksi obat:

  • Berikan dengan makanan untuk meminumkan iritasi gastrointestinal.
  • Penggunaan bersama-sama dengan antiinflamasi non-steroid atau antirematik lain dapat mengakibatkan risiko gastrointestinal, perdarahan gastrointestinal.
  • Penggunaan bersama-sama dengan anti-diabetes harus dilakukan penyesuaian dosis.
  • Pasien yang menerima vaksinasi terhadap smallpox, juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis.

 

Kemasan dan Nomor Registrasi:

METHYLPREDNISOLONE 4 mg : Kotak, 10 blister @ 10 tablet: No. Reg. GKL0305035210A1

METHYLPREDNISOLONE 8 mg : Kotak, 10 blister @ 10 tablet: No. Reg. GKL0305035210B1

METHYLPREDNISOLONE 16 mg : Kotak, 10 blister @ 10 tablet: No. Reg. GKL0305035210C1

 

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

 

SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30)C, TERLINDUNG DARI CAHAYA

 

 

Dibuat oleh:

PT DEXA MEDICA

JL. BAMBANG UTOYO 138

PALEMBANG – INDONESIA

 

~ oleh edhane pada Januari 18, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: